Beberapa Fakta Fenomenal Dari Gus Dur

Beberapa Fakta Fenomenal Dari Gus Dur

Daftarpresidendunia.web.id – Abdurrahman Wahid akrab disapa Gus Dur merupakan tokoh muslim Indonesia yang dikenal progresif. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pendiri dan pemimpin salah satu partai politik nasional, dan juga Presiden ke 4 Republik Indonesia.

Keberagaman yang sejak semula diusung cucu dari pendiri organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama KH Hasjim Asy’ari tersebut menjadikan Gus Dur dikenal sebagai sosok humanis yang bukan hanya milik umat Islam saja.

Download IDN Poker Android Terbaru atau unduh aplikasi idnplay, anda bisa melakukanya dengan mudah dan gratis, dengan menggunakan link download apk idnplay yang telah sediakan agen resmi IDNPLAY Indonesia yakni Pokerplay338 melalui url di http://pokerplay338.net/ yang bisa anda akses langsung melalui smartphone anda.

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Gus Dur saat dirinya masih menjabat sebagai Presiden kerap menuai banyak pujian dari kalangan minoritas. Kebijakan penghapusan pelarangan peringatan Imlek dan atribut berbau Tiongkok, baik budaya, simbol maupun bahasa misalnya, menjadikan sosok Gus Dur dilekati gelar “Bapaknya Orang Tionghoa” sampai sekarang.

Dalam rangka turut memperingati Haul ke-9 Gus Dur yang jatuh pada 30 Desember 2018, berikut ini beberapa fakta fenomenal Gus Dur yang mungkin saja anda belum pernah dengar.

1. Tidak Punya Dompet

Mantan Staf Pribadi Ibu Negara ke-4 yang juga Ketua dan Pendiri Barikade Kader Gus Dur, Priyo Sambadha membeberkan rahasia perihal Gus Dur yang tidak memiliki dompet.

“Gus Dur itu tidak punya dompet karena tidak punya ATM, tidak punya kartu kredit. Tidak punya uang tunai juga. Kalau pas punya uang, pasti nggak tahan lama, karena terus dikasihkan orang-orang yang minta bantuan. Selalu begitu. Saya lihatnya suka bingung sendiri,”

Pernyataan Priyo didukung cerita dari Kiai Husein Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Pesantren Dar Al Tauhid yang juga merupakan keponakan Gus Dur. Kiai Husein menceritakan perihal kebaikan Gus Dur yang memberikan seluruh uang yang ia punya, saat adik Husein yang juga keponakan Gus Dur, Nanik Zahiro mengalami kesulitan keuangan.

Gus Dur memberikan amplop honor seminar yang didapatnya kepada Nanik, seraya menyuruhnya untuk mengambil uang isi dari amplop yang masih tertutup rapat tersebut seperlunya saja.

“Dia membuka amplop itu, tetapi sesudah menghitung isi amplop tersebut, dia bilang bahwa keperluannya adalah seluruh isi amplop itu. Gus Dur diam saja lalu berkata, ‘Ya sudah gak apa-apa. Ambil saja semua’,”

Baca Juga : Fakta Unik BJ Habibie Yang Harus Kalian Tahu

2. Meledek Yahudi di Depan Presiden Israel, Shimon Peres

Abdurrahman Wahid memang terkenal sebagai sosok yang jenaka. Banyak pejabat dan pemimpin negara yang dibuat tergelak oleh cerita-cerita lucu Gus Dur. Tak terkecuali Presiden ke-9 Israel, Shimon Peres.

Gus Dur menyarankan kepada Shimon agar Israel melakukan kebijakan impor kutang dari negara Perancis, karena menurut Gus Dur akan menghasilkan keuntungan dua kali lipat. Bingung dengan saran Gus Dur, Shimon bertanya bagaimana caranya. Gus Dur kemudian membeberkan ide brilian yang sungguh lucu, sampai konon Presiden negara penginvasi Palestina tersebut tertawa hingga terbatuk-batuk.

“Imporlah kutang dari Perancis, setelah itu potong jadi dua, setelah dipotong baru dijual. Kutang yang aslinya hanya bisa dipakai satu orang, di Israel bisa dipakai dua orang asal dipotong dulu. Jangan lupa tali-tali pengikatnya dibuang dulu. Kalian bisa memakai kutang sebagai topi untuk pergi ke tembok ratapan,” celoteh Gus Dur

Lelucon tersebut langsung membuat Presiden Shimon Peres terbahak-bahak, mengingat topi khas Yahudi di Israel yang bernama Kipah, memiliki bentuk bulat dan dipakai hanya menutupi ubun-ubun.

3. Mengaku Sebagai Keturunan Tionghoa

Gus Dur pernah melontarkan pernyataan mengejutkan dengan membuat sebuah pengakuan bahwa dirinya memiliki darah keturunan Tionghoa. Tidak hanya sebatas melontarkan pernyataan, pria yang merupakan anak kandung dari Pahlawan Nasional KH Wahid Hasyim itu juga memberikan otoritas kepada peneliti negeri tirai bambu tersebut untuk melakukan penelitian dan penelusuran terkait leluhurnya di negeri China.

Sayangnya, sampai saat Gus Dur meninggal dunia, hasil riset tidak terlalu lengkap dan tidak bisa membuktikan kalau Gus Dur merupakan keturunan seorang yang bernama Tan Kwee Liang, yang ikut dalam ekspedisi Laksamana Cengho, seperti klaim Gus Dur waktu itu.

4. Makamnya Diziarahi Ribuan Orang Per Hari

Bagi santri dari kalangan Nahdlatul Ulama, menghargai Guru, Wali atau Tokoh Ulama Besar tidak hanya dilakukan saat yang bersangkutan masih hidup. Saat sang ulama besar telah wafat sekalipun, iringan doa dan ziarah ke tanah makam dilakukan sebagai bentuk penghormatan. Hal tersebut juga dilakukan oleh para Gusdurian, sebutan bagi para pengagum Gus Dur.

Meski belum pernah ada riset dan penghitungan pasti mengenai jumlah peziarah yang mendatangi makam Gus Dur tiap harinya, mantan orang terdekat Gus Dur saat ia masih menghuni Istana Negara, Priyo Sambadha menceritakan kalau jumlah santri atau pengagum yang datang menziarahi makam Gus Dur mencapai ribuan orang tiap harinya.

“Belum pernah disurvei secara ilmiah. Tapi sebagai gambaran saja, makam #GusDur tiap hari diziarahi 3000 orang. Weekend bisa 5000. Ramadan bisa sampai 10000. Setiap hari,”

5. Bisa Berbicara Enam Bahasa Asing

Abdurrahman Wahid muda sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Saat itu bahkan Gus Dur aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia bersama karibnya, KH Ahmad Mustofa Bisri akrab disapa Gus Mus.

Sebagai mantan pelajar di Kairo, Mesir sudah tentu kemampuan Bahasa Arab Gus Dur tak bisa diragukan lagi. Tapi nyatanya, Gus Dur tidak hanya fasih berbahasa Arab. Gus Dur juga kerap melakukan pembicaraan dengan menggunakan setidaknya enam bahasa asing sepanjang hidupnya.

Fakta tersebut dilontarkan kembali oleh Priyo Sambadha lewat akun Twitter pribadinya.

“Sampai detik ini saya tidak tahu pasti berapa bahasa #GusDur menguasai. Tapi saya pernah dengar beliau bicara dalam Bahasa Arab, Inggris, Spanyol, Jerman, Belanda dan Perancis. Minimal berbasa-basi beberapa saat dengan jurnalis asing. Kalau Bahasa Arab dan Inggris sih jelas sangat fasih,” tutur Priyo Sambadha.

Biografi Presiden Gus Dur

Biografi Presiden Gus Dur

Daftarpresidendunia.web.id – Mula-mula dia belajar, Gus Dur belajar sedikit tentang datuknya, K.H. Hasyim Asy’ari. Di rumah dengan datuknya, beliau diajar untuk belajar dan membaca Al-Quran. Pada usia lima tahun, beliau fasih dalam Al-Quran. Apabila ayahnya berpindah ke Jakarta, semasa belajar secara formal di sekolah, Gus Dur memasuki kelas swasta Belanda. Gurunya yang bernama Willem Buhl, orang Jerman yang masuk Islam, menukar namanya menjadi Iskandar. Untuk menambah pelajaran bahasa Belanda, Buhl selalu menyajikan muzik klasik yang biasanya dinikmati oleh orang dewasa. Inilah kali pertama Gu Dur berhubung dengan dunia barat dan dari sini juga Gus Dur telah mula menarik dan menyukai muzik klasik.

Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma’sum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.

Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation’. Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin ‘What is To Be Done’ . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya. Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur.

Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo.

Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki.

Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970. Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas.

Baca juga : Biografi Presiden Megawati

Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh.

Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam. Namun, akhirnya ia kembali ke Indoneisa setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya.

Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik.