Soeharto Presiden Terkorup

Soeharto Presiden Terkorup

daftarpresidendunia.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  Soeharto Presiden Terkorup. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai Soeharto Presiden Terkorup.

Sejarawan Bonnie Triyana mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pernah menyampaikan bahwa Presiden ke-2 RI, Soeharto, masuk dalam daftar 10 kepala negara paling korup di dunia.

Jenderal bintang lima itu menempati urutan pertama sebagai kepala negara yang mengambil uang rakyat.”Kita ingat PBB waktu itu, Sekjen-nya Ban Ki-moon salah satunya pernah menyebutkan ada sepuluh pemimpin negara di dunia ini yan korup, nomor satu ya, mohon maaf Soeharto,” kata Bonnie dalam diskusi ‘Jangan Lupakan Korupsi Soeharto’, di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta, Kamis.Kepala negara lainnya di bawah Soeharto, yang tercatat sebagai paling korup, yaitu mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos, Presiden Zaire Mobutu Sese Seko, Presiden Nigeria Sani Abacha, Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic.Kemudian Presiden Haiti Jean Claude Duvailer, Presiden Peru Alberto Fujimori, Presiden Ukraina Pavio Lazarenko, Presiden Nikaragua Arnold Alemen, dan Presiden Filipina Joseph Estrada.Bonnie mengatakan bahwa pihaknya bukan bermaksud membicarakan Soeharto sebagai seorang pribadi. Menurutnya, selama ini masyarakat salah kaprah ketika membicarakan Soeharto dianggap menyerang secara pribadi pemimpin Orde Baru itu.”Tidak, dia itu institusi, dia itu kepala negara, dia itu presiden dari sebuah masa (yang menjabat) 30 tahun lebih,” ujarnya.Bonnie menyebut pemerintahan Soeharto tidak hanya menimbulkan korupsi di bidang ekonomi, tetapi juga korupsi di bidang politik. Salah satu bentuk korupsi politik yang dilakukan Soeharto adalah merenggut kebebasan.Menurut dia, korupsi di era Soeharto diperparah dengan tak adanya kebebasan untuk bersuara, termasuk kebebasan pers. Bila ada media yang berani menulis kasus korupsi yang melibatkan orang dekat sang jenderal, media itu bakal dibredel.”Pers tidak punya kebebasan untuk memberitakan soal-soal korupsi tadi. Artinya udah klop, pers tidak bisa memberitakan secara bebas, korupsinya ada,” ujarnya.

Berantas Setengah Hati
Di sisi lain, kata Bonnie, Soeharto juga dinilai tak serius melakukan pemberantasan korupsi di zamannya. Meskipun saat itu sejumlah lembaga antikorupsi dibentuk Soeharto untuk memerangi praktik lancung penyelenggara negara.Bonnie menyebut saat Tim Pemberantasan Korupsi yang diketuai oleh Jaksaa Agung Sugih Arto dibentuk pada 1967, lembaga tersebut banyak menangani kasus korupsi, sekitar 144 kasus. Salah satu kasus yang paling besar adalah korupsi di tubuh Pertamina.

Baca Juga :Presiden Tertua Di Dunia

Namun, korupsi di Pertamina itu tak sampai menyentuh pimpinannya ketika itu. Menurut Bonnie, kondisi tersebut membuat reaksi di masyarakat. Dia menyatakan pemberantasan korupsi yang selektif, diskriminatif turut mengundang protes mahasiswa.”Ini menimbulkan reaksi kenapa kok yang besar itu enggak diselidiki,” ujarnya.Lantas, kata Bonnie, Soeharto kembali membentuk Komisi Anti Korupsi pada 1970. Masih di tahun yang sama, Komisi Empat dibentuk. Komisi itu dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Wilopo dan salah satu penasihatnya wakil presiden pertama Mohammad Hatta alias Bung Hatta.Menurut Bonnie, ketika itu Komisi Empat telah bekerja maksimal dan memberikan sejumlah rekomendasi kepada Soeharto. Namun, rekomendasi itu tak dijalankan. Kritik pun datang langsung dari Bung Hatta.

“Oleh karena itu Bung Hatta bilang, ini akan selesai kalau misalkan Presiden Soeharto turun tangan sendiri, ikut menyelesaikan. Dengan kata lain kalau kita tafsirkan berarti dia (Soeharto) enggak mau turun tangan,” kata Bonnie.Dari situ, lanjut Bonnie, protes terhadap Soeharto terus berdatangan. Salah satunya protes tersebut muncul saat mahasiswa ITB berkumpul yang jumlahnya mencapai 3000 orang.Kritik utama yang disampaikan mahasiswa kepada rezim Soeharto ketika itu adalah pemerintahan yang dinilai tak bersih, penuh dengan prilaku koruptif, dan kroniisme yang mulai menjalar.”Pada masa ini lah perilaku koruptif semakin, meruyak, semakin membesar. Tahun 1978, Bung Hatta bilang kritik lagi, kata Bung Hatta ini korupsi sudah menjadi budaya kita. Bayangkan sudah menjadi budaya,” ujarnya.Oleh karena itu, Bonnie mengajak masyarakat untuk melihat sejarah pemberantasan korupsi sebagai sebuah pelajaran. Menurutnya, untuk memperbaiki kondisi tersebut masyarakat harus terus berjalan sambil melihat masa lalu pemerintah memberantas korupsi.”Kita kan enggak mau mewariskan dendam pada generasi yang berikutnya, tidak mau mewariskan masalah,” kata dia.

Fakta Unik Presiden Soeharto Yang Jarang Diketahui

Fakta Unik Presiden Soeharto Yang Jarang Diketahui

Daftarpresidendunia.web.id – Ketika kita membicarakan tentang sosok Soeharto, pikiran kita pasti akan dijejali dengan banyak hal. Mulai tentang enaknya hidup di masa kepemimpinannya yang apa-apa serba murah itu, program petrus yang bikin penjahat ciut nyali, sampai soal harta pribadi yang jumlahnya tak karuan banyaknya.

Ya, mungkin hal-hal ini yang identik dengan sang presiden kedua, walaupun sebenarnya masih banyak fakta-fakta lain tentang pengganti Bung Karno itu.

Ya, masih ada banyak fakta-fakta unik lain tentang Presiden Soeharto yang jarang diketahui. Misalnya saja Pak Harto yang suka memberikan pinjaman. Salah satunya kepada Tino Sidin sang pelukis kenamaan Indonesia yang saat itu meminjam uang dengan nominal sekitar Rp. 7 juta di tahun 80an.

Pak Harto memang banyak uang, berbeda dengan Bung Karno yang miskin dan bahkan pernah meminjam uang kepada ajudannya sendiri.

Tak hanya itu, masih ada beberapa fakta unik lain tentang Presiden Soeharto yang jarang diketahui orang-orang Indonesia. Simak ulasannya berikut.

1. Soeharto Pernah Enggan Menjadi Presiden

Kita mungkin berpikir jika Soeharto sangat berambisi menjadi presiden. Buktinya, begitu Bung Karno lengser ia pun cepat-cepat dilantik menjadi kepala negara. Kesannya mungkin ambisius, padahal Pak Harto sendiri pernah mengatakan kalau dirinya ogah menjadi presiden.

Ya, Pak Harto aslinya ogah menyematkan gelar presiden kepada dirinya, namun beliau mau untuk menjalankan tugas kepresidenan. Alasannya sendiri karena jika menjadi presiden kesannya seperti mendepak Bung Karno, dan rakyat akan mengutuknya. Pak Harto tetap dengan prinsipnya itu hingga pada akhirnya ia ditempatkan pada posisi harus menjadi presiden.

Akhirnya dilantiklah presiden kedua ini. Uniknya, meskipun sempat ogah jadi presiden, sekalinya dilantik beliau lama sekali menjadi seorang kepala negara. 32 tahun!

Baca Juga : Fakta Unik Bung Karno ini Pasti Jarang Diketahui Orang Indonesia

2. Tanzania Pernah Tak Akui Soeharto Sebagai Presiden

Lengsernya Bung Karno menjadi hal yang mengejutkan tak hanya bagi rakyat Indonesia tapi juga dunia. Sosoknya yang sangat kharismatik dan penting itu selalu menjadi sorotan dunia. Makanya, begitu beliau lengser dan digantikan Soeharto, beberapa negara tak mengakui presiden kedua ini, dan tetap menganggap Putra sang Fajar adalah kepala negara NKRI.

Seperti yang dilakukan oleh Tanzania, menteri kabinet presiden mereka pernah tak mengakui Soeharto. Jadi, ketika itu seorang pejabat bernama Moehammad Jasin yang akan ditugaskan untuk jadi duta besar di Tanzania. Tapi, ia ditolak mentah-mentah.

Alasannya surat pengantarnya ditandatangani Soeharto, bukannya Soekarno. Jasin sudah menjelaskan jika terjadi pergantian presiden, namun pihak Tanzania bersikukuh menolak Soeharto. Hingga akhirnya setelah proses birokrasi yang ruwet Jasin pun bisa bertugas.

3. Soeharto Pernah Menantang Sylvester Stallone

Terdengar seperti lelucon ya, tapi memang benar jika Soeharto pernah menantang si Rambo alias Sylvester Stallone. Bukan untuk berduel atau tembak-tembakan, tapi bermain golf. Jadi, ceritanya si Sly tengah ke Indonesia untuk membuka salah satu restoran. Nah, di saat yang sama kebetulan Presiden Soeharto tengah senggang, akhirnya bertemulah kedua orang ini.

Pak Harto kemudian menantang Sly untuk bermain golf sebanyak 19 set. Lucunya, meskipun saat itu sang presiden kedua ini sudah lumayan uzur, tapi ia mengalahkan Stallone dengan telak. Sang Rambo ini pun mengakui kehebatan Pak Harto, kemudian dari mulutnya terlontar satu pujian, “You are the best player”.

4. Soeharto, Cerutu, dan Mood

Tak hanya hobi mancing dan menembak, Soeharto juga sangat menggemari cerutu. Ya, dalam setiap kesempatan santainya, sang presiden pasti akan menyedot cerutu-cerutu mahalnya. Nah, yang unik dari hobi sang presiden ini adalah seseorang bisa menebak moodnya dari cara Pak Harto menyedot cerutu tersebut.

Menurut Jenderal Rudini, seorang mantan Kepala Staf Angkatan Darat yang juga jadi teman dekat Soeharto, ketika sang presiden menyedot cerutu sambil jalan mondar-mandir, maka ia sedang dalam mood yang bagus.

Sebaliknya, ketika Pak Harto menyedot cerutu sambil menunjukkan muka tak menyenangkan, maka ia sedang dalam kondisi yang tidak bersahabat.

5. Pak Harto dan Sesajen Bu Tien

Sudah bukan rahasia lagi kalau keluarga Pak Harto itu sangat kejawen. Hal ini cukup masuk akal mengingat beliau lahir di keluarga Jawa yang benar-benar kental. Apalagi Ibu Tien yang masih keluarga jauh keraton.

Dengan latar belakang seperti ini, tak heran jika dalam kesehariannya, praktik-praktik Jawa masih dilakukan oleh keluarga Soeharto. Salah satunya adalah memasang sesajen untuk hal-hal tertentu.

Seperti yang dilakukan oleh Ibu Tien ketika tak mendapati kabar dari suaminya selama beberapa waktu. Ibu Tien dengan sigap langsung memasang sesajen agar bisa segera mendapatkan kabar baik. Ketika itu, Prabosutedjo, adik Pak Harto yang disuruh Ibu Tien untuk membeli bahan-bahannya, termasuk sebuah nasi kebuli yang gagal didapatkan.

Uniknya, tak sampai sesajen dipasang lengkap, ajudan Pak Harto pun datang dan memberi kabar. Soeharto menghilang saat itu karena tengah mengurus soal strategi penumpasan PKI.

Inilah fakta-fakta tentang Soeharto yang selama ini mungkin jarang diketahui. Siapa yang menyangka jika beliau itu ternyata pernah ogah menjadi presiden gara-gara takut dengan rakyat.

Siapa yang tahu juga kalau ternyata Pak Harto pernah menghajar Stallone dalam golf. Di balik kontroversi yang dilakukannya, Pak Harto ini tetaplah sosok yang benar-benar unik.

Biografi Presiden Soeharto

Biografi Presiden Soeharto

Paftarpresidendunia.web.id – Masyarakat Indonesia harus terbiasa dengan biografi Suharto. Tidak hanya dikenal oleh generasi sebelumnya, bahkan generasi tahun 90-an masih akrab dengan namanya. Ya, ia adalah presiden Indonesia kedua dengan masa jabatan terpanjang, yang berlangsung selama 32 tahun, dari tahun 1967 hingga 1998. Biografi Soeharto tentu saja pantas untuk diketahui.

Suharto dikenal karena karakternya yang khas, yang memiliki wajah yang tampaknya selalu tersenyum, itulah sebabnya dunia barat mengenalnya sebagai “Jenderal yang tersenyum” atau “Jenderal yang selalu tersenyum”.

Pada awalnya dia adalah pemimpin militer umum yang penting di koloni Jepang dan Belanda. Hingga akhirnya ia mengambil alih kekuasaan Presiden Soekarno saat itu. Era Soeharto dimulai pada tahun 1967, lebih dikenal sebagai Orde Baru.

Pada masa pemerintahannya Indonesia mengalami kemajuan ekonomi serta infrastruktur. Namun dibalik itu pula isu korupsi santer berhembus diakhir pemerintahan beliau. Lalu Siapakah Soeharto ? Dimana beliau dilahirkan ? dan bagaimana sepak terjangnya selama ini ? berikut biografi Soeharto yang kita rangkum sebagai berikut :

Lahirnya Soeharto
Biografi Soeharto dimulai pada saat kelahirannya yaitu pada tanggal 8 Juni 1921 di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta.

Soeharto kecil lahir dari pasangan Bapak Kertosudiro yang bekerja sebagai petugas irigasi serta Ibu Sakirah. Setelah lahirnya Soeharto, kedua orangtuanya pun memutuskan untuk bercerai.

Soeharto kemudian dititipkan kepada salah satu kerabat ibunya yakni Mbah Kromodiryo. Hal itu dilakukan karena kondisi ibunya yang sakit-sakitan hingga tak mampu menyusui Soeharto saat itu.

Saat Soeharto berusia 4 tahun, ia pun dijemput oleh ibunya Sakirah dan mengajaknya tinggal bersama dengan suami barunya yang bernama Atmopawiro.

Soeharto memiliki seorang buyut yang bernama Notosudiro. Beliau merupakan salah satu pengawas keraton hingga Soeharto sering dipanggil “Den” pada saat itu. Tak lama kemudian Soeharto dititipkan pada adik perempuan ayah kandungnya yang bersuamikan seorang mantri tani bernama Prawirodiharjo. Disana Soeharto memperoleh pendidikan dan dibesarkan dengan baik. Hingga akhirnya beliau dijemput lagi oleh ayah tirinya.

Soeharto Muda
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Schakel Muhammadiyah Yogyakarta, Soeharto pun mulai mencari pekerjaan kesana kemari karena anggota keluarganya tak ada yang mampu membiayai pendidikan lanjutannya.
Pada saat itu mencari pekerjaan bukanlah sesuatu yang mudah tanpa adanya bantuan dari orang yang berkedudukan maupun berpengaruh. Karena tak kunjung mendapat pekerjaan, Soeharto pun memutuskan merantau ke Wuryantoro karena banyaknya kenalan di daerah tersebut.

Hingga pada suatu hari Soeharto mendapat pekerjaan sebagai pembantu klerek pada sebuah bank Desa (Volks Bank). Dari pekerjaannya ini, Ia belajar pembukuan.

Hal yang tidak terduga pun terjadi, secara tidak sengaja Soeharto menyobekkan kain batik satu-satunya yang menjadi seragam harian untuknya bekerja. Akhirnya Soeharto muda dipecat saat itu, kemudian ia pun merantau ke Solo namun tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Hari-harinya pun diisi dengan kegiatan gotong royong membangun mushola, menggali parit dan membereskan lumbung.

Riwayat Pendidikan Soeharto
Suatu saat dibukalah pendaftaran masuk KNL (Koninlijk Nederlands-Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Soeharto pun diterima dan menjalani dinas pertamanya selama 3 tahun di Kortverband di Gombong.

Gayung bersambut, Soeharto pun menjadi lulusan terbaik dan ditugaskan menjadi wakil Komandan Regu di Batalyon XIII Rampal Malang. Selain itu Soeharto juga menjalani praktek di Pantai Pertahanan Gresik selama kurang lebih 2 minggu.

Hingga penyakit Malaria pun menyerangnya dan terpaksa Soeharto dirawat dirumah sakit. Setelah sembuh dari penyakitnya Soeharto ikut ujian masuk Sekolah Kader di Gombong untuk mendapatkan gelar sersan. Setelah mendapatkan pangkat Sersan ia pun ditugaskan ke Bandung untuk dijadikan cadangan pada Markas Besar Angkatan Darat bertempat di Cisarua.

Dua minggu setelah menjalani penempatan di Cisarua pada tanggal 8 Maret 1942, Belanda pun menyerah pada Jepang. Karena takut ditangkap oleh Jepang, Soeharto pun memutuskan pulang ke Yogyakarta. Saat itu pula Malaria yang dideritanya kambuh sehingga membuatnya terbaring selama 6 bulan.

Setelah sembuh, Soeharto pun kembali mengadu nasib di Yogyakarta dengan mengikuti les mengetik. Tidak lama kemudian dibukalah penerimaan keanggotaan Keibuho yakni nama polisi Jepang di Indonesia. Soeharto diterima dan lulus dengan predikat terbaik.

Karena keberhasilannya, ia pun dianjurkan mendaftar menjadi tentara sukarela PETA (Pembela Tanah Air). Soerharto diterima dan dilatih menjadi Komandan Peleton (Shodancho). Seusai menjalani masa pendidikan, Soeharto pun ditempatkan di Batalyon Wates Yogyakarta, Pos pertahanan di Glagah Pantai Selatan Yogyakarta serta Madiun.

Keberhasilannya menjadi Shodancho, mengantarkannya menjadi Komandan Kompi (Chucandho) untuk mempelajari strategi perang. Seusai pendidikan Ia ditempatkan di Seibu yakni markas besar PETA di Solo di Kusumoyudan.

Karir militer Soeharto pun berjalan mulus dari sini. Ia ditugaskan diberbagai markas besar PETA yang ada di beberapa daerah. Ia berhasil bebas dari pembersihan karena pemberontakan PETA di Blitar. Hingga akhirnya oleh Jepang ia ditempatkan di Kaki Gunung Wilis di Desa Brebeg selatan Madiun untuk melatih prajurit PETA.

Baca juga : Biografi Presiden Soekarno

Karier Politik Soeharto
Setelah sukses dengan karir militernya, melalui surat Perintah Sebelas Maret tahun 1967 Soeharto mulai menggantikan kedudukan Soekarno menjadi Presiden. Satu tahun kemudian pada Maret 1968 Soeharto ditetapkan sebagai Presiden kedua oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara.

Masa pemerintahan Soeharto pun dinamakan Orde Baru. Hal pertama yang menjadi fokus Soeharto saat itu adalah perbaikan ekonomi. Kiblat ekonomi yang digunakan Soeharto pada saat itu adalah tim ekonom didikan Barat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun naik pesat bahkan berhasil melakukan swasembada pangan pada dekade 1980 an. Hal ini membuat Soeharto dijuluki Bapak Pembangunan.

Jika sekarang kita mengenal istilah Keluarga Berencana, itu merupakan salah satu peninggalan program yang dicanangkan dimasa pemerintahan Soeharto di bidang kesehatan. Program ini membuat Indonesia mendapat penghargaan dari PBB sebagai negara percontohan.

Di bidang politik Soeharto melakukan pemangkasan partai-partai politik, hingga muncullah Partai Golongan Karya sebagai partai dominan saat itu. Golkar menjadi partai yang selalu memenangkan pemilihan umum pada masa orde baru tanpa adanya partai oposisi.

Kebijakan di bidang politik inilah yang memunculkan keluhan di masyarakat. Hal ini memunculkan kesan anti demokrasi dan otoliter di kalangan masyakarat.

Hingga pada puncaknya terjadilah peristiwa penting di tanggal 15 Januari 1974 yang lebih dikenal dengan istilah malari(malapetaka lima belas januari). Dimana massa turun ke jalan menolak modal asing yang selama ini menjadi salah satu pilar program ekonomi Soeharto.

Masalah yang lain pun berdatangan. Terjadi krisis moneter dan ekonomi berkepanjangan yang mendera kawasan Asia pada tahun 1997. Demonstrasi demi demonstrasi pun terjadi. Hingga demonstrasi terbesar terjadi pada tahun 1998 yang dilakukan oleh mahasiswa.

Demonstrasi besar-besaran ini mengakibatkan kondisi tanah air menjadi genting. Saat itulah Soeharto dipaksa turun dari jabatannya sebagai presiden. Hingga pada tanggal 21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden. Masa reformasi pun dimulai.

Kisah Cinta Soeharto
Dari biografi Soeharto juga dapat kita ketahui kisah cintanya. Soeharto dan Hartinah atau yang lebih kita kenal dengan nanam Bu Tien ini sama-sama bersekolah di Wonogiri. Soeharto merupakan kakak tingkat Bu Tien saat itu. Setelah lulus, mereka berdua terpisah oleh jarak dan waktu yang lama.

Mereka berdua bertemu kembali saat sama-sama menjalani tugas negara. Dimana pak Harto bertugas sebagai tentara sedangkan Bu Tien tergabung dalam Organisasi Perjuangan Perempuan (Laswi) serta Palang Merah Indonesia.

Hingga akhirnya sang paman menawari sang calon pemimpin tersebut untuk menikah dan siapa sangka lamaran Pak Harto diterima oleh Hartinah.

Pada tanggal 26 Desember 1947 keduanya pun menikah, meskipun pada awalnya pak Harto rendah diri karena status Ningrat yang dimilki oleh Bu Tien. Pesta pernikahan keduanya dilakukan dengan sangat sederhana bahkan hanya dengan penerangan lilin semata.

Pernikahan keduanya dikaruniai enam orang anak yaitu Siti Hardijanti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang trihatmojo, Siti Hediati Hariyadi, Hutomo Mandala Putra serta Siti Hutami endang Adiningsih. Pada tahun 1996 Bu Tien pun meninggal dunia.

Akhir Hidup Soeharto
Soeharto meninggal dunia pada tanggal 27 Januari 2008 pada pukul 13.10 WIB di rumah sakit Pusat Pertamina Jakarta. Jenazah Soerharto diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Cendana Jakarta pada Senin 28 Januari 2008 pada pukul 07.30. WIB menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Jenazah akan diterbangkan ke Solo untuk dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo.

Itulah tadi biografi Soeharto yang dikutip dari berbagai sumber. Dari biografi Soeharto di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa Soeharto bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi beliau mengangkat Indonesia dari keterpurukan. Namun di sisi lain beliau merupakan pemimpin yang anti demokrasi, yang menyebabkan gejolak dimasyarakat.

Dengan belajar sejarah akhirnya kita mengetahui fakta keseluruhan dari biografi Soeharto. Baik yang baik maupun yang buruk di mata masyarakat. Dengan begitu kita mampu menilai sendiri, tidak hanya terbawa penilaian orang lain yang belum tentu benar.